Kamis, 04 Juli 2013

sejauh itukah?



29 agustus 2012

Saat dimana hati tak lagi dapat menuntun jiwa menuju kesempurnaan. Aku mulai belajar dari sebuah ocehan dari sang penuntut hidup, andai aku sanggup menjaga hati ini mungkin aku tak akan berusaha keras melupakan dia. Mungkin hati ini sudah mengeras seperti es Kristal. Aku hanya menyakini bahwa nash Allah benar-benar tak diragukan.
Sungguh aku berlindung kepada Allah dari bisikan syiton yang terkutuk, yang menjerumuskan hambaNya pada jurang kenistaan.
Sungguh wahai Sang Penguasa hidup…
betapa berat hati ini melepas hati yang terjerit, merintih, berharap akan segera Kau pertemukan dengan pemilik tulang rusuk ini. siapa dia sesungguhnya?, kenapa dia belum segera datang?, apakah Engkau sedang menguji kesabaran hamba?
 teriakan itu yang slalu jiwa ini pertanyakan. Akankah lekas datang dalam kurun waktu satu atau dua tahun, atau akan Engkau hadirkan setelah hamba lulus dari kuliah.
Sungguh Engkau memang adil, semoga jiwa ini slalu istiqomah dalam menunggu pemimpin dalam jiwa ini. semoga dia adalah sesosok laki-laki yang shaleh, kecintaan pada Engkau lebih utama ketimbang dunia seisinya. Sesosok jiwa yang beriman seperti baginda rasulullah, seorang yang penyabar, penyayang, pandai dalam memimpin, berilmu, jujur, seorang yang dapat mendampingi dunia dan akhirat, seorang yang cinta pada Rasul serta berpedoman pada alquran dan assunnah.  Seseorang yang beramal dengan menggunakan dasar yang benar.
Yaa Rabb…….
Ikhlaskan hati ini jika memang dia bukan untukku. Gantikan dia seorang yang shalih, yang lebih beriman serta berilmu, yang lebih dari apa yang hamba perkirakan. Karna hamba yakin.. kuasa Allah adalah apa prasangka hambaNya.

Minggu, 14 April 2013

senandung ara



annajah
Senin yang lalu semua diuji oleh Alloh,,, rasanya hati tak sanggup dengan ini semua, berlangsung begitu singkat tapi lukanya begitu dalam, soal itu yang sangat aku takutkan, soal itu yang membuatku urung untuk memilih sebenarnya, dan soal itu pula yang membuatku trauma.
Tapi semua harus tetap berjalan, lolos atau tidaknya sebuah ujian itu semua sudah aku serahkan pada Sang Pemberi Nilai. Soal masih banyak, butuh jawaban yang konkrit untuk itu semua.
Sabtu ini... rasanya masih saja terbayang-bayang... antara takut, kecewa, kalut, jenuh, berharap.. semua menumpuk jadi satu. Entah soal itu membuat aku lemah tak berdaya.
Tapi kawan...... sungguh kalian penghidup inspirasiku,,, kalian selalu tawarkan semangat yang sangat-sangat dasyatnya... kalian tanting aku saat aku berada dibawah, kalian perban luka ini dengan banyaknya do’a-do’a... sungguh tiada obat yang lebih mujarab yang diberikan Alloh kecuali hadirnya kalian dihidupku. Dari kalian aku belajar tersenyum, tertawa, kasih sayang, kesabaran, kematangan, keanggunan, keindahan dan semua yang membuatku bersinar seperti eloknya mentari pagi.
Sungguh begitu beruntungnya diri ini mempunyai teman-teman yang luar biasa hebatnya, yang mempunyai berbagai kriteria dan jenis sifat yang sangat berbeda. “keras, tegas, logis, lembut, sabar, ikhlas, ridho, pasrah, dan masih banyak lg sifat-sifat yang tak mungkin dapat disatukan. Tapi aku tetap percaya sifat itu memberi warna pada rumah kita.. rumah kesuksesan dimasa depan antara dunia dan akhirat. Seakan tak ada tempat lain yang memadai separti tempat tinggal kita.
Berdelapan.. itulah engkau yang berbeda.. sama-sama anggun, cerdas, shalehah, dan siapapun nanti yang memilih kita  itulah orang yang paling beruntung didunia.
Alloh begitu baik telah mempertemukan kita dulu, saat sama-sama masih udik, kampungan, norak. Kita mencari tempat yang paling nyaman untuk tinggal dan belajar menuntut ilmu. Sabtu itu tetap bulan september 2011. Enam diantara delapan orang saling tersipu malu untuk berkenalan.
Indah saat itu... kesan empat menit pertama menandakan karakter dan sifat-sifat yang akan dibawa selamanya. Dan saat itu.. aku seperti orang paling beruntung mengenal kalian, “Rkh” anak lucu, lugu, dan polosnya begitu sangat polosnya mencium tanganku. Rasa tak enak saat itu, anak dr podok “IS” memberikan kesan yang sangat tak mungkin dilupakan, “AR” yang datang dengan begitu ramahnya selalu memberi kesan yang sangan bersahabat, “TR” orang yang begitu dewasa diantara delapan orang ini memberi kesan kami selalu ada pembina dalam bersahabat, dan masih banyak lagi kesan yang kalian toreh dlam memory ini. 2 tahun sudah semua kehidupan berjalan begitu cepat. Rasanya jika suatu saat kita berpisah tak ikhlas dan tak ingin untuk itu. Tapi apa daya kita dipertemukan pasti akan ada sebuah perpisahan itu. Berat dan sangat sedih. Tapi kita harus tetap semangat, karakter orang yang berbeda dari daerah yang berbeda pula.
Dan terimakasih Alloh. Engkau pertemukan kehidupan indah dalam proses  kehidupan yang lebih baik. Jurang dan tebing itu harus tetap ku lewati, jika memang Engkau ijinkan kami ke puncak pastilah entah berapa lama, entah berapa daya yang harus kami keluarkan, semua pasti akan membuahkan hasil yang lebih baik. Tetap bersyukur apaun yang terjadi nanti, karena tak akan ada pelangi jika tak ada panas dan hujan. Tak akan ada kupu-kupu yang cantik jika tak ada ulat yang menjijikan.
Tetap lindungi dan ridhoi kami Yaa Robb, keluarga kami, teman-teman seperjuangan kami, orang-orang terkasih dan umatMu tentunya. Semoga kami menjadi hambaMu yang beruntung. amiin

Selasa, 09 April 2013



DIUJUNG HARAPANKU
Berawal dari sebuah mimpi anak penjual seprai yang mempunyai rasa empati besar pada negeri ini, Fahri adalah sesosok anak yang rajin dalam menuntut ilmu dan membantu orangtua. bermimpi menjadi seorang Ekonom handal di negara antah brantah ini.
Pagi itu, dengan tekatnya ia memberanikan diri untuk berbicara kepada  ayahnya tentang kelanjutan studinya.
“ayah, Fahri ingin ngobrol dengan ayah sebentar bisa ndak?” tanya Fahri sambil mendekati ayahnya yang sedang duduk diteras.
“iya nak, ada apa? Kok sepertinya ada yang penting sekali” jawab ayah.
 “Begini yah, Fahri kan sudah lulus, sedang Fahri masih ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, kemarin Fahri sempat daftar di Universitas Negeri jalur beasiswa, menurut ayah bagaimana?” Ungkap Fahri sembari melihatkan formulir pendaftaran.
“studi apa yang ingin kamu ambil nak? Bukannya lebih baik kamu masuk di Pendidikan Agama Islam saja, selain kamu belajar ilmu dunia kamu juga belajar ilmu akhirat, itu lebih baik menurut ayah.“
“tapi Fahri ingin masuk diakuntansi, Fahri ingin menjadi entrepreneur sukses yang dapat mensejahterakan bangsa ini. Dengan prinsip ekonomi yang ingin Fahri terapkan nantinya akan menjadikan indonesia sebagai negara yang maju. Fahri juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, karena Fahri prihatin dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, banyak pengangguran yang akhirnya menimbulkan kejahatan.” Ujar Fahri
“iya nak, ayah tahu yang ingin kamu berikan kepada bangsa indonesia ini, niat kamu sangat mulia, tapi kamu harus ingat, bahwa tidak semua yang kita harapkan itu  baik untuk masa depan kita. Alloh itu tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ayah harap kamu mempertimbangkan ulang, dengan keputusan yang kamu ambil nanti.” Jawab ayah sembari menepuk pundak anaknya.
Kemudian ayahnya pergi untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Bergulat dengan teriknya matahari disiang hari dan sesekali harus diguyur hujan disertai badai. Terlihat dari sisi kehidupan keluarga Fahri, ayahnya sangatlah bersahaja, beliau tidak ingin putranya bernasib sama dengan ayahnya, harapan yang agung dari seorang ayah untuk anaknya, agar kelak dapat membanggakan keluarga, agama, dan bangsanya.
Pagi-pagi sekali ia berpamitan kepada orangtuanya untuk mengikuti tes penerimaan beasiswa untuk mahasiswa baru berprestasi disalahsatu Perguruan Tinggi Negeri di indonesia, dan jika nantinya ia diterima seluruh biaya pendidikan sampai lulus akan ditanggung oleh pihak kampus tersebut.
Hati Fahri begitu berdebar kencang saat itu, untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Universitas yang menjadi mimpinya sejak dulu. Selangkah demi selangkah ia menyusuri tangga menuju ruang tes akademik, kakinya begitu berat melangkah, hatinya tak henti-hentinya berdebar kencang, bibirnya yang tipis terlihat komat-kamit sembari membaca lantunan dzikir nan suci. Saat itu harapannya hanya satu, “berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan orang-orang yang ia sayangi”.
“ri,  gimana kabarmu” sapa mas anas sepupunya.
“alhamdulillah baik mas, gimana kabar mas anas sendiri?” balik Fahri bertanya.
“sehat, jadi kuliah disini, ambil program apa?”
“aku niatnya masuk di fakultas ekonomi, pilihan kedua di fakultas agama islam, maklum ayah yang menyarankan untuk di fakultas agama islam. Menurut mas anas sendiri gimana?, secarakan mas anas berpengalaman di lingkup kampus ini?” tanya Fahri
“sebenarnya sih semua bagus, tergantung sumber daya manusianya saja yang bagaimana, apakah dia masuk kuliah hanya untuk mencari gelar sarjana atau ingin mengemban amanah bangsa indonesia ini, menjadi generasi pelopor, penerus dan pemersatu bangsa. Semua pilihan ada ditanganmu. Pilihlah yang terbaik, jangan hanya kepentingan pribadi saja yang kamu utamakan, indonesia butuh sosok seorang figur pemimpin yang hebat. Mas rasa kamu mampu untuk itu.”
Setelah menyelesaikan urusan, ia melanjutkan aktifitasnya membantu orangtuanya sembari menunggu hasil keputusan dari kampus.  Selang beberapa minggu, kini tiba saatnya untuk pengumuman hasil seleksi beasiswanya.
“Gimana hasilnya nak?” tanya ayahnya yang begitu menaruh harapan besar pada anaknya
“Alhamdulillah yah, Fahri lolos seleksi, Fahri diterima di fakultas agama islam walaupun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi Fahri akan berusaha sekuat kemampuan Fahri untuk membanggakan ayah ibu, dan terimakasih berkat do’a ayah ibu Fahri berada diperingkat satu.”jawab Fahri kegirangan
“selamat ya nak, semoga segala apa yang kamu cita-citakan dapat terwujud”ujar ayah.
Akhirnya Fahri dapat kuliah di Universitas yang dinginkan, dan lulus dengan nilai cumlaude serta mendapat tawaran kuliah Magister di Islamic University of Madinah. Sungguh karunia yang luar biasa bagi Fahri atas segala kesabaran dan keikhlasan serta kerja kerasnya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Ia diangkat menjadi asisten dosen di Universitas Madinah tersebut dan ia tetap menjadi orang yang sederhana, rendahhati, bersahaja serta menjadi figur yang dihormati oleh mahasiswanya.