29 agustus 2012
Saat dimana hati tak lagi dapat menuntun
jiwa menuju kesempurnaan. Aku mulai belajar dari sebuah ocehan dari sang
penuntut hidup, andai aku sanggup menjaga hati ini mungkin aku tak akan
berusaha keras melupakan dia. Mungkin hati ini sudah mengeras seperti es
Kristal. Aku hanya menyakini bahwa nash Allah benar-benar tak diragukan.
Sungguh aku berlindung kepada Allah dari
bisikan syiton yang terkutuk, yang menjerumuskan hambaNya pada jurang
kenistaan.
Sungguh wahai Sang Penguasa hidup…
betapa berat hati ini melepas hati yang
terjerit, merintih, berharap akan segera Kau pertemukan dengan pemilik tulang
rusuk ini. siapa dia sesungguhnya?, kenapa dia belum segera datang?, apakah
Engkau sedang menguji kesabaran hamba?
teriakan itu yang slalu jiwa ini pertanyakan.
Akankah lekas datang dalam kurun waktu satu atau dua tahun, atau akan Engkau
hadirkan setelah hamba lulus dari kuliah.
Sungguh Engkau memang adil, semoga jiwa ini
slalu istiqomah dalam menunggu pemimpin dalam jiwa ini. semoga dia adalah
sesosok laki-laki yang shaleh, kecintaan pada Engkau lebih utama ketimbang
dunia seisinya. Sesosok jiwa yang beriman seperti baginda rasulullah, seorang
yang penyabar, penyayang, pandai dalam memimpin, berilmu, jujur, seorang yang
dapat mendampingi dunia dan akhirat, seorang yang cinta pada Rasul serta
berpedoman pada alquran dan assunnah. Seseorang
yang beramal dengan menggunakan dasar yang benar.
Yaa Rabb…….
Ikhlaskan hati ini jika memang dia bukan
untukku. Gantikan dia seorang yang shalih, yang lebih beriman serta berilmu,
yang lebih dari apa yang hamba perkirakan. Karna hamba yakin.. kuasa Allah
adalah apa prasangka hambaNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar