DIUJUNG
HARAPANKU
Berawal dari sebuah mimpi anak penjual seprai yang
mempunyai rasa empati besar pada negeri ini, Fahri adalah sesosok anak yang
rajin dalam menuntut ilmu dan membantu orangtua. bermimpi menjadi seorang Ekonom
handal di negara antah brantah ini.
Pagi itu, dengan tekatnya ia memberanikan diri untuk berbicara
kepada ayahnya tentang kelanjutan
studinya.
“ayah, Fahri ingin ngobrol dengan ayah sebentar bisa
ndak?” tanya Fahri sambil mendekati ayahnya yang sedang duduk diteras.
“iya nak, ada apa? Kok sepertinya ada yang penting
sekali” jawab ayah.
“Begini yah, Fahri
kan sudah lulus, sedang Fahri masih ingin melanjutkan kuliah di Fakultas
Ekonomi, kemarin Fahri sempat daftar di Universitas Negeri jalur beasiswa,
menurut ayah bagaimana?” Ungkap Fahri sembari melihatkan formulir
pendaftaran.
“studi apa yang ingin kamu ambil nak? Bukannya lebih
baik kamu masuk di Pendidikan Agama Islam saja, selain kamu belajar ilmu dunia
kamu juga belajar ilmu akhirat, itu lebih baik menurut ayah.“
“tapi Fahri ingin masuk diakuntansi, Fahri ingin menjadi
entrepreneur sukses yang dapat mensejahterakan bangsa ini. Dengan prinsip
ekonomi yang ingin Fahri terapkan nantinya akan menjadikan indonesia sebagai
negara yang maju. Fahri juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya,
karena Fahri prihatin dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, banyak
pengangguran yang akhirnya menimbulkan kejahatan.” Ujar Fahri
“iya nak, ayah tahu yang ingin kamu berikan kepada
bangsa indonesia ini, niat kamu sangat mulia, tapi kamu harus ingat, bahwa
tidak semua yang kita harapkan itu baik
untuk masa depan kita. Alloh itu tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang
kita inginkan. Ayah harap kamu mempertimbangkan ulang, dengan keputusan yang kamu
ambil nanti.” Jawab ayah sembari menepuk pundak anaknya.
Kemudian ayahnya pergi untuk melakukan aktifitas
sehari-hari. Bergulat dengan teriknya matahari disiang hari dan sesekali harus
diguyur hujan disertai badai. Terlihat dari sisi kehidupan keluarga Fahri,
ayahnya sangatlah bersahaja, beliau tidak ingin putranya bernasib sama dengan
ayahnya, harapan yang agung dari seorang ayah untuk anaknya, agar kelak dapat
membanggakan keluarga, agama, dan bangsanya.
Pagi-pagi sekali ia berpamitan kepada orangtuanya untuk
mengikuti tes penerimaan beasiswa untuk mahasiswa baru berprestasi disalahsatu
Perguruan Tinggi Negeri di indonesia, dan jika nantinya ia diterima seluruh
biaya pendidikan sampai lulus akan ditanggung oleh pihak kampus tersebut.
Hati Fahri begitu berdebar kencang saat itu, untuk
pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Universitas yang menjadi mimpinya
sejak dulu. Selangkah demi selangkah ia menyusuri tangga menuju ruang tes
akademik, kakinya begitu berat melangkah, hatinya tak henti-hentinya berdebar
kencang, bibirnya yang tipis terlihat komat-kamit sembari membaca lantunan
dzikir nan suci. Saat itu harapannya hanya satu, “berusaha sebaik mungkin agar
tidak mengecewakan orang-orang yang ia sayangi”.
“ri, gimana
kabarmu” sapa mas anas sepupunya.
“alhamdulillah baik mas, gimana kabar mas anas
sendiri?” balik Fahri bertanya.
“sehat, jadi kuliah disini, ambil program apa?”
“aku niatnya masuk di fakultas ekonomi, pilihan kedua
di fakultas agama islam, maklum ayah yang menyarankan untuk di fakultas agama
islam. Menurut mas anas sendiri gimana?, secarakan mas anas berpengalaman di
lingkup kampus ini?” tanya Fahri
“sebenarnya sih semua bagus, tergantung sumber daya
manusianya saja yang bagaimana, apakah dia masuk kuliah hanya untuk mencari
gelar sarjana atau ingin mengemban amanah bangsa indonesia ini, menjadi
generasi pelopor, penerus dan pemersatu bangsa. Semua pilihan ada ditanganmu.
Pilihlah yang terbaik, jangan hanya kepentingan pribadi saja yang kamu
utamakan, indonesia butuh sosok seorang figur pemimpin yang hebat. Mas rasa kamu
mampu untuk itu.”
Setelah menyelesaikan urusan, ia melanjutkan aktifitasnya
membantu orangtuanya sembari menunggu hasil keputusan dari kampus. Selang beberapa minggu, kini tiba saatnya
untuk pengumuman hasil seleksi beasiswanya.
“Gimana hasilnya nak?” tanya ayahnya yang begitu
menaruh harapan besar pada anaknya
“Alhamdulillah yah, Fahri lolos seleksi, Fahri
diterima di fakultas agama islam walaupun tidak sesuai dengan apa yang
diharapkan, tapi Fahri akan berusaha sekuat kemampuan Fahri untuk membanggakan
ayah ibu, dan terimakasih berkat do’a ayah ibu Fahri berada diperingkat satu.”jawab
Fahri kegirangan
“selamat ya nak, semoga segala apa yang kamu
cita-citakan dapat terwujud”ujar ayah.
Akhirnya Fahri dapat kuliah di Universitas yang dinginkan,
dan lulus dengan nilai cumlaude serta mendapat tawaran kuliah Magister di
Islamic University of Madinah. Sungguh karunia yang luar biasa bagi Fahri atas
segala kesabaran dan keikhlasan serta kerja kerasnya selama ini akhirnya
membuahkan hasil. Ia diangkat menjadi asisten dosen di Universitas Madinah
tersebut dan ia tetap menjadi orang yang sederhana, rendahhati, bersahaja serta
menjadi figur yang dihormati oleh mahasiswanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar