Selasa, 09 April 2013



DIUJUNG HARAPANKU
Berawal dari sebuah mimpi anak penjual seprai yang mempunyai rasa empati besar pada negeri ini, Fahri adalah sesosok anak yang rajin dalam menuntut ilmu dan membantu orangtua. bermimpi menjadi seorang Ekonom handal di negara antah brantah ini.
Pagi itu, dengan tekatnya ia memberanikan diri untuk berbicara kepada  ayahnya tentang kelanjutan studinya.
“ayah, Fahri ingin ngobrol dengan ayah sebentar bisa ndak?” tanya Fahri sambil mendekati ayahnya yang sedang duduk diteras.
“iya nak, ada apa? Kok sepertinya ada yang penting sekali” jawab ayah.
 “Begini yah, Fahri kan sudah lulus, sedang Fahri masih ingin melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, kemarin Fahri sempat daftar di Universitas Negeri jalur beasiswa, menurut ayah bagaimana?” Ungkap Fahri sembari melihatkan formulir pendaftaran.
“studi apa yang ingin kamu ambil nak? Bukannya lebih baik kamu masuk di Pendidikan Agama Islam saja, selain kamu belajar ilmu dunia kamu juga belajar ilmu akhirat, itu lebih baik menurut ayah.“
“tapi Fahri ingin masuk diakuntansi, Fahri ingin menjadi entrepreneur sukses yang dapat mensejahterakan bangsa ini. Dengan prinsip ekonomi yang ingin Fahri terapkan nantinya akan menjadikan indonesia sebagai negara yang maju. Fahri juga akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, karena Fahri prihatin dengan kondisi ekonomi yang ada saat ini, banyak pengangguran yang akhirnya menimbulkan kejahatan.” Ujar Fahri
“iya nak, ayah tahu yang ingin kamu berikan kepada bangsa indonesia ini, niat kamu sangat mulia, tapi kamu harus ingat, bahwa tidak semua yang kita harapkan itu  baik untuk masa depan kita. Alloh itu tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Ayah harap kamu mempertimbangkan ulang, dengan keputusan yang kamu ambil nanti.” Jawab ayah sembari menepuk pundak anaknya.
Kemudian ayahnya pergi untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Bergulat dengan teriknya matahari disiang hari dan sesekali harus diguyur hujan disertai badai. Terlihat dari sisi kehidupan keluarga Fahri, ayahnya sangatlah bersahaja, beliau tidak ingin putranya bernasib sama dengan ayahnya, harapan yang agung dari seorang ayah untuk anaknya, agar kelak dapat membanggakan keluarga, agama, dan bangsanya.
Pagi-pagi sekali ia berpamitan kepada orangtuanya untuk mengikuti tes penerimaan beasiswa untuk mahasiswa baru berprestasi disalahsatu Perguruan Tinggi Negeri di indonesia, dan jika nantinya ia diterima seluruh biaya pendidikan sampai lulus akan ditanggung oleh pihak kampus tersebut.
Hati Fahri begitu berdebar kencang saat itu, untuk pertama kalinya dia menginjakkan kakinya di Universitas yang menjadi mimpinya sejak dulu. Selangkah demi selangkah ia menyusuri tangga menuju ruang tes akademik, kakinya begitu berat melangkah, hatinya tak henti-hentinya berdebar kencang, bibirnya yang tipis terlihat komat-kamit sembari membaca lantunan dzikir nan suci. Saat itu harapannya hanya satu, “berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan orang-orang yang ia sayangi”.
“ri,  gimana kabarmu” sapa mas anas sepupunya.
“alhamdulillah baik mas, gimana kabar mas anas sendiri?” balik Fahri bertanya.
“sehat, jadi kuliah disini, ambil program apa?”
“aku niatnya masuk di fakultas ekonomi, pilihan kedua di fakultas agama islam, maklum ayah yang menyarankan untuk di fakultas agama islam. Menurut mas anas sendiri gimana?, secarakan mas anas berpengalaman di lingkup kampus ini?” tanya Fahri
“sebenarnya sih semua bagus, tergantung sumber daya manusianya saja yang bagaimana, apakah dia masuk kuliah hanya untuk mencari gelar sarjana atau ingin mengemban amanah bangsa indonesia ini, menjadi generasi pelopor, penerus dan pemersatu bangsa. Semua pilihan ada ditanganmu. Pilihlah yang terbaik, jangan hanya kepentingan pribadi saja yang kamu utamakan, indonesia butuh sosok seorang figur pemimpin yang hebat. Mas rasa kamu mampu untuk itu.”
Setelah menyelesaikan urusan, ia melanjutkan aktifitasnya membantu orangtuanya sembari menunggu hasil keputusan dari kampus.  Selang beberapa minggu, kini tiba saatnya untuk pengumuman hasil seleksi beasiswanya.
“Gimana hasilnya nak?” tanya ayahnya yang begitu menaruh harapan besar pada anaknya
“Alhamdulillah yah, Fahri lolos seleksi, Fahri diterima di fakultas agama islam walaupun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi Fahri akan berusaha sekuat kemampuan Fahri untuk membanggakan ayah ibu, dan terimakasih berkat do’a ayah ibu Fahri berada diperingkat satu.”jawab Fahri kegirangan
“selamat ya nak, semoga segala apa yang kamu cita-citakan dapat terwujud”ujar ayah.
Akhirnya Fahri dapat kuliah di Universitas yang dinginkan, dan lulus dengan nilai cumlaude serta mendapat tawaran kuliah Magister di Islamic University of Madinah. Sungguh karunia yang luar biasa bagi Fahri atas segala kesabaran dan keikhlasan serta kerja kerasnya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Ia diangkat menjadi asisten dosen di Universitas Madinah tersebut dan ia tetap menjadi orang yang sederhana, rendahhati, bersahaja serta menjadi figur yang dihormati oleh mahasiswanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar